Tuesday, March 14, 2017

Apa Lagi?





11 Maret 2015

Beginilah nasib anak kelas XII SMA setiap tahunnya, yang jelas seseorang harus melewati fase ini untuk menuju jenjang yang lebih tinggi. Apakah ada orang yang menyukai hal bernama, “UJIAN tambah dalam kurung (Pra UN)” Ini Pra UN ke dua yang aku lewati, setelah TUC (Tes UJi Coba) yang kedua pula. Semua anak kelas XII hanya meminta “Cepetan UN!” sekali pun materi belum dikuasai semuanya, memang terasa penat setiap Minggu harus berhadapan dengan soal-soal itu dan nilai tetaplah begitu tapi, aku mensyukuri apa yang telah kudapat.

Ada cerita di balik semua yang kutulis, itu hanya sebagai pengatar, pengingat bahwa peristiwa ini terjadi di hari terakhir Pra UN ke dua. Aku menganggapnya “TAKDIR” sesuatu di luar dugaanku bahwa semua itu terjadi dengan sendirinya, alamiah tanpa rekayasa pada diriku entahlah pada lelaki itu, “Apa dia mengetahui awalnya?” Pikiranku berkata tidak untuk menjawab pertanyaan itu. 

Aku menengok ke belakang melihat benda berbentuk bulat di dinding kelas, di dalamnya ada jarum-jarum yang berputar. Jarum yang ukurannya pendek menunjuk diantara angka sebelas dan dua belas namun lebih dominan menuju angka dua belas, jarum yang ukurannya lebih panjang menunjuk ke angka sepuluh. Aku tahu pelajaran hitung-menghitung uang ini akan menghabiskan waktu banyak, sepuluh menit lagi berakhir. Aku anak yang terakhir meninggalkan ruangan dengan waktu tersisa lima menit sebelum bel.
Seperti biasa ke luar ruangan raut wajah tidak begitu sehat namun sebagian anak berkata “Datang, Kerjakan dan Lupakan!” Aku mulai meninggalkan kolidor bersama teman dekatku yang duduk selalu bersama dari kelas X sampai detik ini. Beberapa situs sekolah telah terlewati oleh kaki ini, dan berhenti di salah satu situs paling ramai ketika istirahat. Temanku meminta untuk menunggunya karena perutnya terasa lapar akhirnya aku menunggu dan berbincang dengan beberapa teman dari kelas lain. 

Kaki ini melanjutkan perjalanannya menuju tempat tujuan terakhir sekolah ini. Mataku tak focus karena dari tadi melihat seorang lelaki yang tak pernah bisa kulupakan semenjak enam tahun yang lalu. Aku mencoba mengabaikannya seperti biasa berpura-pura tak melihatnya dengan menundukan kepala, dan temanku memilih jalan yang tepat mengajakku berjalan kearah kanan. 

Tentu bersama seorang teman dekat atau bisa dibilang sahabat bercerita adalah hal paling menyenangkan, kaki benar-benar mendarat di tempat tujuan dan tempat seluas ini sekarang terasa sepi hanya ada aku dan sahabatku ditambah kendaraan roda dua yang tidak terjajarkan rapih karena sedikit, bayangkan ini hanya kendaraan anak kelas XII. 

Mulut terus berkata sambil tertawa, dan tersadar bayangan seseorang muncul dari arah tangga tempat kami datang sebelumnya, bayang itu menjelma menjadi sosok seorang yang jelas untuk bisa mata melihat dan menjelas siapa orang itu. Mulut yang sedari tadi tak berhenti berkata sekarang langsung menutupnya. Pandangan orang itu yang membuat mulutku terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun. Diri ini dengan sendiri berpindah menjauh dari langkahnya yang semakin mendekat ke arahku. Langkahnya terhenti, “Kenapa berhenti, please jangan!” Hatiku berontak berkata namun mulutku tetap diam dan temanku dia terlalu sering melihat kejadian seperti ini dia harus menahan tawanya saat ini. Aku tak pernah tahu alasan dia selalu sengaja memandangiku bahkan dengan jarak tiga puluh cm menurut ukuranku, apa maksudnya baik atau buruk. Kali ini hanya berbeda dua langkah kaki antara aku dan dia,  apa ini benar-benar tatapannya? Tatapan mata yang selalu aku inginkan. Jika aku boleh meminta waktu kepada Tuhan aku ingin detik ini berhenti sekalipun detak jantung berdetak tak beraturan tapi tetaplah seperti itu, aku teringat tentang mimpi itu mimpi dimana kamu berkata, “Hal yang paling gue senengin setiap harinya itu bisa liat lo.” 

Aku melihat wajahnya, senyumannya yang tak pernah aku mengerti dari dulupun mulai ke luar. Mukaku menunjukan sesuatu diwajahnya, entah mengapa pada saat itu mulutku benar-benar tak bisa berkata, maksud dari gerakan wajahku itu, “Itu di wajah kamu ada binatang.” Kamu menyadari gerakan wajahku seperti menunjukan sesuatu, “Apa?” Sahutnya sambil mengusapkan lengan kirinya yang sedang memegang papan ujian kewajahnya. Aku menggelengkan kepalaku yang berarti binantang itu sudah pergi sebelum kamu bertanya kepadaku. Aku tundukan kepalaku dan kamu sektika pergi meninggalkanku menuju kedaraan yang tak begitu jauh dari tempatku berdiri dan akupun membiarkanmu pergi lebih dulu.

“Apa semua lelaki bisa seperti itu? Bertingkah sesuka mereka? Kau tahu aku pernah menyukaimu ahhh bukan pernah bahkan sampai detik ini seharusnya kau tak boleh mendekat kearahku selama kau masih denganya.”

0 comments:

Post a Comment