11 Maret 2015
Beginilah nasib anak kelas XII SMA
setiap tahunnya, yang jelas seseorang harus melewati fase ini untuk menuju
jenjang yang lebih tinggi. Apakah ada orang yang menyukai hal bernama, “UJIAN
tambah dalam kurung (Pra UN)” Ini Pra UN ke dua yang aku lewati, setelah TUC
(Tes UJi Coba) yang kedua pula. Semua anak kelas XII hanya meminta “Cepetan
UN!” sekali pun materi belum dikuasai semuanya, memang terasa penat setiap
Minggu harus berhadapan dengan soal-soal itu dan nilai tetaplah begitu tapi, aku
mensyukuri apa yang telah kudapat.
Ada cerita di balik semua yang
kutulis, itu hanya sebagai pengatar, pengingat bahwa peristiwa ini terjadi di
hari terakhir Pra UN ke dua. Aku menganggapnya “TAKDIR” sesuatu di luar dugaanku bahwa semua
itu terjadi dengan sendirinya, alamiah tanpa rekayasa pada diriku entahlah pada
lelaki itu, “Apa dia mengetahui awalnya?” Pikiranku berkata tidak untuk menjawab
pertanyaan itu.
Aku menengok ke belakang melihat
benda berbentuk bulat di dinding kelas, di dalamnya ada jarum-jarum yang
berputar. Jarum yang ukurannya pendek menunjuk diantara angka sebelas dan dua
belas namun lebih dominan menuju angka dua belas, jarum yang ukurannya lebih
panjang menunjuk ke angka sepuluh. Aku tahu pelajaran hitung-menghitung uang
ini akan menghabiskan waktu banyak, sepuluh menit lagi berakhir. Aku anak yang
terakhir meninggalkan ruangan dengan waktu tersisa lima menit sebelum bel.
Seperti biasa ke luar ruangan raut wajah
tidak begitu sehat namun sebagian anak berkata “Datang, Kerjakan dan Lupakan!”
Aku mulai meninggalkan kolidor bersama teman dekatku yang duduk selalu bersama
dari kelas X sampai detik ini. Beberapa situs sekolah telah terlewati oleh kaki
ini, dan berhenti di salah satu situs paling ramai ketika istirahat. Temanku
meminta untuk menunggunya karena perutnya terasa lapar akhirnya aku menunggu
dan berbincang dengan beberapa teman dari kelas lain.
Kaki ini melanjutkan perjalanannya
menuju tempat tujuan terakhir sekolah ini. Mataku tak focus karena dari tadi
melihat seorang lelaki yang tak pernah bisa kulupakan semenjak enam tahun yang
lalu. Aku mencoba mengabaikannya seperti biasa berpura-pura tak melihatnya
dengan menundukan kepala, dan temanku memilih jalan yang tepat mengajakku
berjalan kearah kanan.
Tentu bersama seorang teman dekat
atau bisa dibilang sahabat bercerita adalah hal paling menyenangkan, kaki
benar-benar mendarat di tempat tujuan dan tempat seluas ini sekarang terasa
sepi hanya ada aku dan sahabatku ditambah kendaraan roda dua yang tidak
terjajarkan rapih karena sedikit, bayangkan ini hanya kendaraan anak kelas XII.
Mulut terus berkata sambil tertawa,
dan tersadar bayangan seseorang muncul dari arah tangga tempat kami datang
sebelumnya, bayang itu menjelma menjadi sosok seorang yang jelas untuk bisa
mata melihat dan menjelas siapa orang itu. Mulut yang sedari tadi tak berhenti
berkata sekarang langsung menutupnya. Pandangan orang itu yang membuat mulutku
terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun. Diri ini dengan sendiri berpindah
menjauh dari langkahnya yang semakin mendekat ke arahku. Langkahnya terhenti,
“Kenapa berhenti, please jangan!”
Hatiku berontak berkata namun mulutku tetap diam dan temanku dia terlalu sering
melihat kejadian seperti ini dia harus menahan tawanya saat ini. Aku tak pernah
tahu alasan dia selalu sengaja memandangiku bahkan dengan jarak tiga puluh cm
menurut ukuranku, apa maksudnya baik atau buruk. Kali ini hanya berbeda dua
langkah kaki antara aku dan dia, apa ini
benar-benar tatapannya? Tatapan mata yang selalu aku inginkan. Jika aku boleh
meminta waktu kepada Tuhan aku ingin detik ini berhenti sekalipun detak jantung
berdetak tak beraturan tapi tetaplah seperti itu, aku teringat tentang mimpi
itu mimpi dimana kamu berkata, “Hal yang paling gue senengin setiap harinya itu
bisa liat lo.”
Aku melihat wajahnya, senyumannya
yang tak pernah aku mengerti dari dulupun mulai ke luar. Mukaku menunjukan
sesuatu diwajahnya, entah mengapa pada saat itu mulutku benar-benar tak bisa
berkata, maksud dari gerakan wajahku itu, “Itu di wajah kamu ada binatang.”
Kamu menyadari gerakan wajahku seperti menunjukan sesuatu, “Apa?” Sahutnya sambil mengusapkan lengan
kirinya yang sedang memegang papan ujian kewajahnya. Aku menggelengkan kepalaku
yang berarti binantang itu sudah pergi sebelum kamu bertanya kepadaku. Aku tundukan kepalaku dan kamu
sektika pergi meninggalkanku menuju kedaraan yang tak begitu jauh dari tempatku
berdiri dan akupun membiarkanmu pergi lebih dulu.
“Apa semua lelaki bisa seperti itu?
Bertingkah
sesuka mereka? Kau tahu aku pernah menyukaimu ahhh bukan pernah bahkan
sampai detik ini seharusnya kau tak boleh mendekat kearahku selama kau masih
denganya.”

0 comments:
Post a Comment